readbud - get paid to read and rate articles

Sunday, June 19, 2011

Pemeriksaan Fisis fisiologi Jantung


TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengertian jantung
Jantung merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot. Otot jantung merupakan jaringan istimewah karena kalau dilihat dari bentuk dan susunannya sama dengan otot serat lintang , tetapi cara bekerjanya menyerupai otot polos yaitu diluar kemauan kita (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom ) .
Fungsi jantung adalah memompa darah ke jaringan, menyuplai oksigen dan zat nutrisi lain sambil mengangkut karbondioksida dan sampah hasil metabolisme . Sebenarnya terdapat dua pompa jantung , yang terletak di sebelah kanan dan kiri . Keluaran jantung kanan didisstribusikan seluruhnya ke paru melalui arteri pulminalis, dan keluaran jantung kiri semuanya didistribusikan ke bagian tubuh yang lain melalui aorta. Kedua pompa itu menyemburkan darah secara bersamaan dengan kecepatan keluaran yang sama.
B.     Cara kerja jantung
Kerja pemompaan jantung dijalankan oleh kontraksi dan relaksasi ritmik dinding otot. Selama kontraksi otot ( sistolik), kamar jantung menjadi lebih kecil karena darah disemburkan keluar. Selama relaksasi otot dinding jantung ( diastolic), kamar jantung akan terisis darah sebagai persiapan untuk penyemburan berikutnya. Jantung dewasa normal berdetak sekitar 60 – 80 kali per menit , menyemburkan sekitar 70 ml darah dari kedua ventrikel per detakan , dan keluaran totanya sekitar 5 L/menit . (2: 720)
Aktivitas listrik jantung terjadi akibat ion (partikel bermuatan Natrium, Kalium, Kalsium) bergerak menembus membrane sel. Perbedaan muatan listrik yang tercatat dalam sebuah sel mengakibatkan apa yang dinamakan potensial aksi jantung.
 Pada keadaan istirahat, otot jantung terdapat dalam keadaan terpolarisasi, artinya terdapat perbedaan muatan listrik antara bagian dalam membrane yang ber- muatan negative dan bagian luar yang bermuatan positive. Siklus jantung bermula saat dilepaskannya impuls listrik, mulailah fase depolarisasi. Permeabilitas membrane sel berubah dan ion bergerak melintasinya. Dengan bergeraknya ion kedalam sel, maka bagian dalam sel akan menjadi positive. Kontraksi otot terjadi setelah depolarisasi. Sel otot jantung normalnya akan mengalami depolarisasi ketika sel-sel tetangganya mengalami depolarisasi. Depolarisasi sebuah sel system hantaran khusus yng memadai akan mengakibatkan depolarisasi dan kontraksi sel miokardium. Repolarisasi terjadi saat sel kembali ke keadaan dasar (menjadi lebih negative) dan sesuai dengan relaksasi otot miokardium.
Setelah influk natrium cepat ke dalam sel selama depolarisasi, permeabilitas membrane sel terhadap kalsium akan berubah, sehingga memungkinkan ambilan kalsium, yang terjadi selama fase plateau repolarisasi, jauh lebih lambat dari Natrium dan berlangsung lebih lama. Interaksi antara perubahan voltase membrane dan kontraksi otot dinamakan kopling elektro mekanikal.
Otot jantung tidak seperti otot lurik atau polos, mempunyai periode refraktori yang panjang pada saat sel tidak dapat distimulasi untuk berkontraksi. Hal tersebut melindungi jantung dari kontraksi berkepanjangan yang dapat mengakibatkan henti jantung mendadak.
Kopling elektomekanikal dan kontraksi jantung yang normal tergantung pada komposisi cairan interstitial sekitar otot jantung. Komposisi cairan tersebut pada gilirannya tergantung pada komposisi darah. Meke perubahan komposisi kalsium dapat mempengaruhi kontraksi serabut otot jantung. Perubahan konsentrasi kalium darah juga penting, karena kalium mempengaruhi voltase listrik normal sel. (2: 723-724)
C.    Anatomi Fisiologi Jantung
Daerah di pertengahan dada diantara kedua paru disebut dengan mediastinum. Sebagian besar rongga mediastinum ditempati oleh jantung, yang terbungkus dalam kantung fibrosa tipis yang disebut pericardium.
Pericardium melindungi permukaan jantung agar dapat berfungsi dengan baik. Ruangan antara permukaan jantung dan lapisan dalam pericardium berisi sejumlah kecil cairan, yang melumasi permukaan dan mengurangi gesekan selama kontraksi otot jantung.
Kamar Jantung, Sisi kanan dan kiri jantung, masing-masing tersusun atas dua kamar, atrium dan ventrikel. Dinding yang memisahkan kamar kanan dan kiri disebut septum. Ventrikel adalah kamar yang menyemburkan darah ke arteri. Fungsi atrium adalah menampung darah yang dating dari vena dan bertindak sebagai tempat penimbunan sementara sebelum darah dikosongkan ke ventrikel. Perbedaan ketebalan dinding atrium dan ventrikel berhubungan dengan beben kerja yang dibutuhkan oleh tiap kamar. Dinding atrium lebih tipis dari dinding ventrikel karena rendahnya tekanan yang ditimbulkan oleh atrium untuk menahan darah dan kemudian menyalurkannya ke ventrikel. Karena vantrikel kiri mempunyai beban kerja yang lebih berat diantara dua kamar bawah maka tebalnya sekitar 2½ lebih tebal dibanding dinding ventrikel kanan. Ventrikel kiri menyemburkan darah melawan tahanan sistemis yang tinggi, sementara ventrikel kanan melawan tekanan rendah pembuluh darah paru.
Katup atrioventrikularis, Katup yang memisahkan atrium dan ventrikel disebut sebagai katup atrioventrikularis. Katup trikuspidalis, dinamakan demikian karena tersusun dari 3 kuspis atau daun, memisahkan atrium kanan dan ventrikel kanan. Katup mitral atau bikuspidalis (dua kuspis) terletak diantara atrium kiri dan ventrikel kiri. Otot papilaris adalah bundle otot yang terletak di sisi dinding ventrikel. Korda tendinea adalah pita fibrosa yang memanjang dari otot papilaris ke tepi bawah katup. Berfungsi menarik tepi bebas katup ke dinding ventrikel. Kontraksi otot papilaris mengakibatkan korda tendinea menegang. Hal ini menjaga daun katup menutup selama sistolik, mencagah aliran balik darah.
Katup semilunaris, Katup antara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis disebut katup pulmonalis, katup antara ventrikel kiri dan aorta disebut katup aorta.
Arteri koronaria adalah pembuluh darah yang menyuplai otot jantung, yang mempunyai kebutuhan metabolisme tinggi terhadap O2 dan nutrisi. Jantung menggunakan 70%-80% O2 yang dihantarkan melalui arteri koronaria. Arteri koronaria muncul dari aorta dekat hulunya di ventrikel kiri. Dinding sisi kiri jantung disuplai dengan bagian yang lebih banyak melalui arteri koronaria utama kiri, yeng kemudian terpecah menjadi dua cabang besar ke bawah (arteri desendens anterior sinistra) dan melintang (arteri sirkumfleksia) sisi kiri jantung. Jantung kanan dipasok oleh arteri koronaria dekstra.
 Otot jantung, merupakan jaringan otot khusus yang secara mikroskopis mirip dengan otot lurik yang dibawah control kesadaran. Namun secara fungsional menyerupai otot polos karena sifatnya volunteer.
Sistem hantaran jantung, Kontraksi teratur dari atrium dan ventrikel yang terjadi secara metodis membangkitkan dan menghantarkan impuls listrik ke sel-sel miokardium. Nodus sinoatrial (SA) terlatak antara sambungan vena cava superior dan atrium kanan, adalah awal mula system hantaran dan normalnya berfungsi sebagai pace maker ke seluruh miokardium. Besar impuls yang dihasilkan 60-100 impuls/menit. Nodus Atrioventrikuler (AV) terletak di dinding atrium kanan dekat katup trikuspidalis menghasilkan impuls 40-60 impuls/menit. Setelah dari AV Node impuls dihantarkan melalui serabut otot halus (bundle his) yang berjalan di dalam septum yang memisahkan ventrikel kanan dan kiri yang kemudian berakhir sebagai serabut pukinje. (1: 720-722)
D.    Letak Jantung
Jantung berada  di dalam torax, antara kedua paru-paru dan di belakang sternum, dan lebih menghadap ke kiri dari pada ke kanan. Kedudukannya yang tepat dapat digambarkan pada kulit dada kita. Sebuah garis yang ditarik dari tulang rawan iga ketiga kanan, 2 cm dari sternum, ke atas ke tulang rawan iga kedua kiri, 1 cm dari sternum, menunjuk kedudukan basis jantung, tempat pembuluh darah masuk dan keluar.
Titik di sebelah kiri antara iga kelima dan keenam, atau di dalam ruang intercostals kelima kiri 4 cm dari garis medial, menunjuk kedudukan apex jantung, yang merupakan ujung tajam dari ventrikel. Dengan menarik garis antara dua tanda itu maka dalam diagram berikut ini, kedudukan jantung dapat ditunjukkan.

E.     Batas-Batas Jantung
      Ada empat ruang, atrium kanan dan kiri atas yang dipisahkan oleh septum intratrial, ventrikel kanan dan kiri bawah dipisahkan oleh septum interventrikular.
1.      Batas atas, intercosta II sinister, yaitu 1cm di sebelah lateral tepi sternum,
  1. Batas bawah terletak pada intercostals V.
  2. Batas kanan terletak pada linea parasternalis dextra.
  3. Batas kiri, terletak pada linea midclavicularis sinistra.
F.     Pemeriksaan fisis Jantung.
Jantung diperiksa secara langsung dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi dinding dada. Pendekatan sistemik merupakan dasar pengkajian yang seksama. Inspeksi dilakukan pada prekordial penderita yang berbaring. Kemudian memperhatikan bentuk prekordial apakah normal, mengalami depresi atau ada penonjolan asimetris yang disebabkan pembesarab jantung sejak kecil. pada palpasi jantung, telapak tangan diletakkan diatas prekordium dan dilakukan perabaan di atas sel iga V. Impuls apical dapat diauskultasi pada ruang interkostal kiri pada garis medio klavikularis.
            Impuls apical terkadang juga dapat dipalpasi . Normalnya terasa sebagai denyutan ringan , dengan diameter 1 – 2 cm. Teraba pada saat awitan bunyi jantung pertama dan berlangsung hanya setengah sistolik . Telapak tangan mula-mula digunakan untuk mengetahui ukuraan dan kualitasnya . Bila impuls apical lebar dan kuat , dinamakan sembulan (heave) atau angkat ventricle ke kiri.
Perkusi
Secara normal hanya batas jantung kiri yang dapat dideteksi pada perkusi. Memanjang dari medioklavikularis di ruang interkosta ketiga sampai kelima. Batas kanan terletak di bawah batas kanan sternum dan tidak dapat dideteksi . Pembesaran jantung baik ke kiri maupun yang ke kanan biasanya akan terlihat Perkusi tidak boleh dilakukan kecuali bila pemeriksaan  menentukan pergeseran impuls apical dan mencurigai pembesaran jantung.
Auskultasi
Pada daerah pericardium yaitu aorta, daerah pulmonal, titik Erb, daerah trikustid dan daerah apeks dapat dideteksi secara auskultasi. Bunyi dalam pembuluh darah dimana darah mengalir selalu dihantarkan sesuai arah aliran. Misalnya, aksi katup mitral biasanya terdengar paling baik di rongga interkostal kelima pada garis midkavikularis. Tempat ini dinamakan daerah katup mitral. Bunyi yang dihasilkan dari pemeriksaan secara auskultasi antara lain:

a.      Bunyi Jantung Pertama
      Bunyi jantung pertama (S1) terjadi karena penutupan katup mitral dan tricuspid secara bersamaan, meskipun getaran dinding miokardium juga berperan tehadap terjadinya bunyi ini. Meskipun bias di dengarkan keseluruh prekordium, namun terdengar paling jelas pada apeks jantung (daerah mitral).
b.      Bunyi Jantung Kedua
      Bunyi jantung kedua (S2) dihasilkan oleh penutupan katup aorta dan pulmonalis. Meskipun kedua katup ini menutup hampir bersamaan, katup pulmonal biasanya menutup agak belakangan, maka pada keadaan tertentu kedua komponen bunyi  kedua dapat terdengar terpisah (split S2). Split biasanya semakin jelas saat inspirasi dan menghilang saat  ekspirasi.
c.      Bunyi Jantung  Ketiga
      Bunyi jantung ketiga (S3) mempunyai frekuensi rendah dan dapat terjadi pada awal awal distolik, selama fase pengisian cepat siklus jantung, atau pada akhir kontraksi atrium.
d.     Bunyi Jantung Keempat (S4)
      Bunyi jantung keempat terkadang dapat didengar bila ventrikel membesar atau hipertrofi sehingga ada pertahanan pengisian. (2: 735-738)
G.    Siklus Jantung
Ada 4 fase pada siklus jantung:
a)      Fase pengisian
b)      Fase kontraksi isovolumetrik
c)      Fase ejeksi
d)     Fase relaksasi iso volumetrik
a)      Fase pengisian
Fase ini dimulai pada akhir systole, tekanan pada atrium lebih tinggi dari pada tekanan ventrikel, pada saat ini katup mitral dan katup trikuspidalis terbuka sedangkan katup aorta dan pulmonal tertutup. Pada fase ini pula terjadi pengisian yang sangat cepat disusul oleh pengisian lambat (diastasis) pada ventrikel. Aktifitas nodus SA dimulai pada pengisian lambat yang disebarkan pada otot atria, gelombang P pada EKG.
b)      Fase kontraksi isovolumetrik
Pada fase ini tekanan di ventrikelmelebihi tekanan di atria, saat itu terjadi penutupan katup mitral dan trikurpidalis. Pada fase ini terjadi bunyi jantung I (S1)
c)      Fase ejeksi
Fase ini dimulai pada saat tekanan ventrikel menyebabkan terbukanya katup aorta dan pulmonal terdiri dari fase ejeksi cepat dan lambat, jumlah darah yang dibawa pada fase ini 70 ml. akhir dari fase ini terjadi repolarisasi ventrikel.
Fase relaksasi isovolumetrik
Pada fase ini tekanan ventrikel menurun dengan cepat, tekanan arteri besar meningkat sehingga katup aorta dan pulmonal menutup sehingga menimbulkan bunyi jantung II (S2). Volume ventrikel tidak berubah walaupun otot ventrikel relaksasi. Fase ini berakhir bila tekanan dalam ventrikel lebih rendah dari tekanan atrium. (3)
H.    Sistem sirkulasi
Sistem sirkulassi adalah sistem transport yang mengantarkan O2 dan berbagai alat yang diabsorbsi dari traktus gastrointestinal menuju kejaringan, serta mengembalikan CO2 ke paru dan hasil metabolism lain menu ke ginjal. Sistem sirkulasi juga berperan dalam pengaturan suhu tubuh, dan mendistribusikan hormone serta berbagai zat lain yang mengatur fungsi sel. (4: 495).
Sistem sirkulasi dimulai dari jaringan tubuh. Darah kembali kebagian kanan jantung melalui atria kanan ke ventrikel kanan. (5: 386)
Sistem sirkulasi dapat dibagi atas:
a)      Sirkulasi paru-paru. Mula-mula darah rendah oksigen kembali ke atrium kanan setelah melewati jaringan tubuh, kemudian melalui katup trikspid dan masuk kedalam ventrikel kanan, kemudia menuuju ke arteri pulmonalis, kemudian masuk ke arteri besar dan kecil masuk ke kapiler lalu masuk ke venavena kecil dan vena pulmonalis dan akhirnya kembali ke atrium kiri.
b)      Sirkulasi systemic. Dimulai dari ventrikel kiri menuju ke aorta, kemudian arteri besar, arteri kecil, arteriole, kapiler, vena kecil masuk ke vena besar kemudian masuk ke vena cavasuperior dan inferior,dan akhirnya kembali ke atrium kanan. (6: 259-260)
Fungsi sirkulasi adalah untuk memenuhi kebutuhan jaringan tubuh untuk mentraspor zat makanan kejaringan tubuh, untuk mentraspor produk-produk yang tidak berguna, untuk menghantarkan hormone dari satu bagian tubuh kebagian tubuh lainnya, dan secara umum, untuk memelihara lingkungan yang sesuai didalam saluran cairanjaringan tubuh agar sel dapat bertahan hidup dan berfungsi secara optimal. (7: 167)
Pada setiap siklus jantung, perubahan tekanan darah terjadi karena antrium dan ventrikel secara bergantian berkontraksi dan relaksasi, dan darah mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke rendah. ( 8 )














 DAFTAR PUSTAKA
1.        Nurmila waode..2009.tekanan darah..in http//www.wikipedia.co.id/. Last Updated 2010-07-01

2.      Brunner & Suddart.2002.KeperawatanMedikalBedah.Vol.2.EGC: Jakarta
3.      Robert, dkk.2003. Physiology. Edisi V. Mosby: USA
4.       Ganong, William F.2003.BukuAjarFisiologiKedokteran.EGC: Jakarta
5.      Copstead, lee-ellen, dkk. 2005. Pathophysiology. Edisi 3. Elsevier Saunders: USA.

6.      Applegate, edith. 2002. Anatomy and Physiology. Edisi 3. Evolve: USA.

7.      Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11, EGC: Jakarta

8.      Gayul.2009.kerja jantung In http://gayul.wordpress.com.Last Updated 2010-07-01

Friday, June 17, 2011

Ceramah KH Zainuddin MZ

KH. Zainudin Mz-Neraka.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365389/KH_Zainuddin_MZ-Neraka.mp3.html

KH_Zainuddin_MZ-PenyakitRohani2.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365388/KH_Zainuddin_MZ-PenyakitRohani2.mp3.html

KH. Zainudin Mz-GolonganYangMendapatPerlindunganDariAllah.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365086/nuddinMZ-GolonganYangMendapatPerlindungan
DariAllah.mp3.html


KH. Zainudin Mz-CubaanHidup.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365085/KHZainuddinMZ-CubaanHidup.mp3.html

KH. Zainudin Mz-Rumahtangga.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365084/KHZainuddinMZ-Rumahtangga.mp3.html
KH. Zainudin Mz-BerbaktiKepadaIbuBapa.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365080/KHZainuddinMZ-BerbaktiKepadaIbuBapa.mp3.h
tml


KH. Zainudin Mz-Dusta.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365079/KHZainuddinMZ-Dusta.mp3.html 
KH. Zainudin Mz-NabiSulaemandanRatuBulqis.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365039/K.H.ZainuddinMZ-NabiSulaemandanRatuBulqis
.mp3.html


KH. Zainudin Mz-NabiYusufdanSiZulaika.mp3.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365038/K.H.ZainuddinMZ-NabiYusufdanSiZulaika.mp3
.mp3.html 


KH. Zainudin Mz-tentangMencariJodoh.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365036/amahIslamolehUst.KH.ZainudinMZtentangMenc
ariJodoh.mp3.html


KH. Zainudin Mz-DasardanTujuanHidupMuslim.mp3
http://www.ziddu.com/download/9365035/K.H.ZainuddinMZ-DasardanTujuanHidupMuslim
.mp3.html

KH. Zainudin Mz-ParaKekasihAllah.MP3
http://www.ziddu.com/download/9365031/K.H.ZainuddinMZ-ParaKekasihAllah.MP3.html

KH. Zainudin Mz-
tentangCaraMendidikAnak.mp3
http://www.ziddu.com/download/9364886/IslamolehUst.KH.ZainudinMZtentangCaraMend
idikAnak.mp3.html 

contoh laporan Tekanan Darah UIN

 LAPORAN TEKANAN DARAH











BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat seseorang yang memeriksa tekanan darah dengan menggunakan alat yang sering disebut tensimeter. Dari pengukuran tekanan darah ini kemudian didapatkan hasil, misalnya 120/80 mmHg yaitu tekanan darah sitole per diastole. Naik turunnya gelembung tekanan darah seirama dengan pemompaan jantung untuk mengalirkan darah di pembuluh arteri. Tekanan darah memuncak pada saat jantung memompa, ini dinamakan systole dan menurun sampai pada tekanan terendah yaitu saat jantung tidak memompa ini disebut Diastole Kemudian timbul pertanyaan dalam benak kita bagaimana cara menentukan angka-angka tersebut, atau adakah hal yang memepengaruhi sehingga tekanan darah setiap orang berbeda-beda dan bagaimana pengaruhnya terhadap keadaan fisiologis seseorang.

Tekanan nadi adalah perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolic dinamakan tekanan nadi. Nilai normalnya sekitar 40mmHg. Peningkatan tekanan darah disebut hipertensi; penurunannya disebut hipotensi (anemia), bila tekanan sistolik saja yang meningkat disebut tekanan hipertensi sistolik., terjadilah pelebaran tekanan nadi. Peningkatan tekanan darah sistolik selalu diikuti oleh tekanan darah diastolic.

Pengukuran tekanan darah sangat penting untuk mengetahui kadar tekanan darah seseorang yang dapat diukur secara langsung dan tidak langsung. Pada metode langsung keteter arteri dimasukkkan dalam arteri. Pengukuran tidak langsung dilakukan dengan sphygmanometer.

Oleh karena itu, untuk mengetahui tekana darah seseorang dioerlukan adanya keterampilan khusus dengan cara-cara yang telah ditentukan.

B.     Tujuan

1.      Mempelajari cara-cara pengukurab tekana darah arteri

2.      Mempelajari beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah secara fisiologis.





























































BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.    Defenisi Tekanan Darah

Tekanan darah  adalah daya dorong ke semua arah pada seluruh permukaan yang tertutup pada dinding bagian dalam jantung dan pembuluh darah. Adapun asal tekanan darah adalah adanya aksi pemompaan jantung yang memberikan tekanan yang mendorong darah melewati pembuluh-pembuluh darah. Darah melewati sistem tekanan yang tertutup karena adanya pembesaran tekanan atau gradien tekanan antara ventrikel kiri dan atrium kanan. (1)

1.   Tekanan ventrikuler kiri berubah dari setinggi 120mmHg saat systole dan diastole sampai serendah 0mmHg.

2.   Tekana aorta berubah dari sekitar 120 mmHg sampai 80 mmHg saat diastole. Tekanan diastolic tetap dipertahankan pada arteri karena efek lontar balik dari dinding elastic aorta.

      Adapun satuan tekanan darah standar adalah dinyatakan dalam 1 milimeter airaksa yang telah dipakai sejak lama sebagai rujukan baku untuk pengukuran tekanan darah.(2:172)

B.     Kecepatan Aliran Darah

Kecepatan aliran darah dipengaruhi pada ukuran palung dari pembuluh darah. Darah dalam aorta bergerak cepat, dalam arteri kecepatan bergerak lambat dan sangat lambat pada kapiler. Tekanan dapat diketahui ketika darah mencapai pembuluh vena dan lebih besar dekat dengan jantung

Faktor lain yang mempengaruhi aliran darah ke jantung meliputi gerakan otot kerangka mengeluarkan tekanan di atas vena. Gerakan yang dihasilkan pernafasan karena gerakan tekanan naik turun diafragma yang bekerja sebagai pompa, isapan yang dilakukan oleh atrium setelah diastole menarik darah dari vena. dan tekanan darah atrium mendorong darah maju.(3)

Ketika kecepatan aliran darah menjadi terlalu besar, bila aliran darah melawati suatu obstruksi dipembuluh, bila aliran berbelok tajam, atau bila darah melalui permukaan kasar, aliran darah dapat menjadi turbulen atau terganggu, dan tidak turbulen. Alliran turbulen berarti darah mengalir melintang di pembuluh maupun di sepanjang pembuluh, biasanya membentuk pusaran dalam darah yang disebut aliran eddy. Aliran ini serupa dengan pusaran air yang sering kita lihatdi sungai beraliran cepat di tempat yang terdapat hambatan(4:127)

C.    Pengukuran Tekanan Darah

      Pengukuran tekanan darah sangat penting untuk mengetahui kadar tekanan darah seseorang yang dapat diukur secara langsung dan tidak langsung. Pada metode langsung kateter arteri dimasukkkan dalam arteri. Pengukuran tidak langsung dilakukan dengan spigmanometer dan stetoskop. Sphygmanometer tersusun atas manset yang dapat dikembangkan dan alat pengukur tekanan yang berhubungan dengan rongga dalam manset. Alat ini dikalibrasi sedemikian rupa sehingga tekanan yang terbaca pada manometer sesuai dengan tekanan dalam millimeter air raksa yang dihantarkan oleh arteri brakialis. Manset dibalutkan dengan kencang dan lembut pada lengan atas dan dikembangkan dengan pompa. Tekanan dalam manset dinaikkan sampai denyut radial atau brachial menghilang. Hilangnya denyutan menunjukkan bahwa tekanan sistolik darah telah dilampaui dan arteri brakhialis telah tertutup. Manset dikembangkan lagi sebesar 20-30 mmHg di atas titik hilangnya denyutan radial. Manset kemudian dikempiskan perlahan, dan dilakukan pambacaan secara auskultasi maupun palpasi.

        Dengan Auskultasi kita dapat mengukur tekanan sistolik dan diastolic dengan lebih akurat. Untuk mengauskultasi tekanan darah, ujung stetoskop yang berbentuk corong atau diafragma diletakkan pada arteri brakhialis, tepat di bawah lipatan siku (rongga antekubital), yang merupakan titik dimana arteri brakhialis muncul diantara kedua katup otot biceps. Manset dikempiskan dengan kecepatan 2 sampai 3 mmHg perdetik, sementara kita mendengarkan bunyi berdetak, yang menunjukkan tekanan darah sistolik. Bunyi tersebut yang dikenal dengan bunyi Korotkoff, terjadi bersamaan dengan detak jantung, dan akan terus terdengar dari arteri brakhialis sampai tekanan dalam manset turun di bawah tekanan diastolik. Pada titik tersebut bunyi akan menghilang. Dalam praktek sebenarnya bunyi menjadi lebih sember (karakternya berubah) saat diastolik tercapai dan kemudian menghilang sekitar 10 mmHg di bawah tekanan diastolik.

        Hilangnya bunyi sangat dekat dengan tekanan diastolik bunyi yang sebenarnya. Bila terdapat lebih dari 10 mmHg antara bunyi sembur dan hilangnya, maka tekanan darah dicatat sebagai tekanan triparti. Misalnya, 129/80/60 yang menunjukkan bahwa bunyi menjadi sember pada 80 mmHg dan menghilang pada 60 mmHg. Dengan Palpasi tekanan darah. Ujung stetoskop yang berbentuk corong atau diafragma diletakkan pada arteri brakhialis, tepat di bawah lipatan siku (rongga antekubital)., yang merupakan titik dimana arteri brakhialis muncul diantara kedua katup otot biceps. Ketika manset dikempiskan arteri brakhialis atau arteri radialis diraba. Pembacaan dimana terjadi lagi denyutan adalah tekanan sistolik. Palpasi dilakukan bila tekanan darah sulit didengarkan. Tetapi dengan palpasi tekanan sistolik tidak dapat ditentukan dengan akurat. (5: 731-732)

       

02

Untitled-9Untitled-7



Untitled-10

D.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Darah

        Tekanan diastolic adalah tekanan terendah, yang terjadi saat jantung istirahat. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolic. Dengan nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60 sampai 140/90. Rata-rata tekanan darah nolmal biasanya 120/80. (5: 731-732)





         Adapun klasifikasi tekanan darah berdasarkan tekanan sistolik dan diastoliknya adalah sebagai berikut :(6,7)

No.
Kategori
Sistol (mmHg)
Diastole (mmHg)
1
Hipotensi
<90
<60
2
Normal
90-119
60-79
3
Prahipertensi
120-139
80-89
4
Hipertensi stadium 1
140-159
90-99
5
Hipertensi stadium 2
>160
>100

         Ketika seseorang dalam keadaan istirahat maka jantung hanya memompa 4-6 liter darah setiap menit. Adapun dalam keadaan bekerja jantung dapat memompa darah 4-7 liter/menit, ini berarti volume yang dipompa oleh jantung karena adanya perubahan volume darah akibat respon jantung terhadap darah dan control jantung dari sistem nervous.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah:(8)

1.      Curah jantung

2.      Tekanan ferifer terhadap darah.

3.      Faktor jenis kelamin

       Tekanan laki-laki mempunyai kecenderungan mudah naik dari pada wanita.

4.      Faktor umur

Dari beberapa penelitian ternyata makin tinggi umur seseorang makin  tinggi juga tekanan darahnya, dengan demikian peluang hipertensi bertambah dengan bertambahnya usia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan hipertensi berdasarkan umur dalam 3 (tiga) kriteria, yaitu:(9)

a)      Kelompok umur 20-29 tahun, tekanan darah 150/90 mm Hg

b)       Kelompok umur 30-64 tahun, tekanan darah 160/95 mm Hg

c)       Kelompok umur 65 tahun, tekanan darah 170/95 mm Hg.

5.      Faktor genetik atau keturunan.

Orang yang mempunyai silsilah dengan keluarga yang menderita hipertensi ada kecenderungan untuk terkena hipertensi juga.

  1. Faktor berat badan

Banyak penelitian mengungkapkan bahwa obesitas merupakan faktor penting sebagai pemicu timbulnya hipertensi karena orang yang terus bertambah berat badan-nya mempunyai kecenderungan tekanan darahnya semakin meninggi.

5.   Faktor Lingkungan

Daerah pesisir atau pantai mempunyai kecenderungan peluang hipertensi lebih tinggi dari pada daerah pedalaman atau pegunungan. Demikian juga masyarakat yang mempunyai kebiasaan makan yang dominan berasa asin mempunyai peluang cukup tinggi untuk menderita tekanan darah tinggi.

6.        Faktor kesehatan

      Orang yang kurang aktif melakukan olah raga pada umumnya cenderung mengalami kegemukan. Efek positif lain dari olah raga selain dapat menurunkan berat badan juga menghilangkan rasa stres.

E.     Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tekanan darah.

Adapun penyakit yang berhubungan dengan tekanan darah yaitu: ( 10 ,11)

1.      Hipertensi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis. Pasien yang mengalami gagal jantung biasanya memiliki kerusakan pada jantung, pompa jantung rendah, tekanan pada vena meningkat, dan pembengkakan pada saluran perifer.

2.      Hipotensi

Tekanan darah rendah (hipotensi) adalah tekanan begitu rendah yang menyebabkan gejala-gejala atau tanda-tanda yang disebabkan oleh aliran darah yang rendah melalui arteri-arteri dan vena-vena. Ketika aliran darah terlalu rendah untuk menyerahkan oksigen dan nutrisi-nutrisi yang cukup pada organ-organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal, organ-organ tidak berfungsi secara normal dan mungkin rusak secara permanen.

Tidak seperti tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah ditentukan terutama oleh tanda-tanda dan gejala-gejala dari aliran darah yang rendah dan tidak oleh angka tekanan darah yang spesifik. Beberapa individu-individu mungkin mempunyai tekanan darah dari 90/50 dengan tanpa gejala-gejala dari tekanan darah rendah dan oleh karenanya tidak mempunyai tekanan darah rendah. Bagaimanapun, yang lain-lain yang normalnya mempunyai tekanan darah tinggi mungkin mengembangkan gejala-gejala tekanan darah rendah jika tekanan darah mereka jatuh ke 100/60 mmHg.





































BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Nama Percobaan

“Pemeriksaan Tekanan Darah”

B.     Alat dan Bahan

  1. Manometer air raksa atau aneroid
  2. Steteskop

C.    Prosedur Kerja

Dalam mencatat tekanan darah secara fisiologi, orang coba harus berada dalam keadaan yang menyenangkan dan lepas dari pengaruh-pengaruh yang dapat mempengaruhi hasil percobaan. Pencatatan tekanan darah ini dengan metode tak langsung.

1.      Cara Palpasi (metode Riva Rocci)

Bentuk pakaian harus dilepas dari lengan atas dan manset dipasang ketat dan sempurna pada lengan. Bila manset tidak terpasang dengan ketat maka dapat diperoleh pembacaan yang abnormal tinggi. Saluran karet dari manset kemudian dihubungkan dengan manometer. Kemudian meraba arteri radialis pada pergelangan tangan orang coba dan tekanan dalam manset dinaikkan dengan memompa sampai denyut nadi (denyut arteri radialis) menghilang. Tekanan dalam manset kemudian diturunkan dengan memutar tombol pada pompa perlahan-lahan yaitu dengan kecepatan kira-kira 3 mm/dt. Saat dimana denyut arteri radialis teraba kembali menunjukkan tekanan darah sistolis. Metode palpasi harus dilakukan sebelum melakukan auskultasi untuk menentukan tekanan yang diharapkan.

2.      Cara Auskultasi

Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter Rusia yaitu Korotkoff pada tahun 1905. Tekanan sistolis dan diastolis dapat diukur dengan metode ini, dengan cara mendengar (auskultasi) bunyi yang timbul akibat pada arteri brachialis yang disebut bunyi korotkoff. Bunyi ini timbul akibat timbulnya aliran turbulen dalam arteri yang disebabkan oleh penekanan manset pada arteri tersebut. Dalam cara auskultasi ini harus diperhatikan bahwa terdapat suatu jarak yang paling sedikit 5 cm, antara manset dan tempat meletakkan stetoskop. Mula-mula meraba arteri brachialis untuk menentukan tempat meletakkan stetoskop. Kemudian manset dipompa sehingga tekanannya melebihi tekanan diastol (yang diketahui dari palpasi). Tekanan manset diturunkan perlahan-lahan sambil meletakkan stetoskop di atas arteri brachialis pada siku. Mula-mula tidak terdengar suatu bunyi kemudian akan terdengar bunyi mengetuk yaitu ketika darah mulai melewati arteri yang tertekan oleh manset sehingga terjadilah turbulensi. Bunyi yang terdengar disebut bunyi korokoff dan dapat dibagi dalam empat fase yang berbeda :

1.      Fase I :  Timbulnya dengan tiba-tiba suatu bunyi menegtuk yang jelas dan  makin lama keras sewaktu tekanan menurun 10-14 mmKg berikutnya. Ini disebut pula nada letupan.

2.      Fase II: Bunyi berubah kualitasnya menjadi bising selama penurunan tekanan 15-20 mmHg

3.      Fase II : Bunyi sedikit berubah dalam kualitas tetapi menjadi lebih jelas dan keras selama penurunan tekanan 5-7 mmHg berikutnya.

4.      Fase IV: Bunyi meredam (melemah)selama penurunan 5-6 mmHg berikutnya. Setelah itu bunyi menghilang.

5.      Fase V :  Titik dimana bunyi menghilang

a)         Permulaan dari fase I yaitu dimana bunyi mula-mula terdengar merupakan tekanan sistolis.

b)        Permulaan dari fase IV atau fase V merupakan tekanan diastolis, dengan perbedaan sebagai berikut : Fase IV terjadi pada tekanan 7-10 mmHg lebih tinggi daripada tekanan diastolis intra arteri yang diukur secara langsung.

c)      Fase V terjadi pada tekanan yang sangat mendekati tekanan diastolis intra arterial pada keadaan istirahat. Pada keadaan latihan otot atau keadaan yang meningkatkan aliran darah, maka fase V jauh lebih rendah dari tekanan diastolis yang sebebnarnya. Pada anak-anak, fase IV lebih tepat digunakan sebagai indeks tekanan diastolis.

3.      Cara Osilasi

Yaitu dengan melihat osilasi pada manometer. Manset dipompa sampai tekananya 10-20 mmHg melebihi tekanan sistolis yang ditentukan dengan metode Riva Rocci. Tekanan manset diturunkan perlahan-lahan sambil memperhatikan air raksa manometer. Saat timbulnya osilasi pada manometer menunjukkan tekanan sistolis. Tekanan manset terus diturunkan sampai osilasi menghilang yang menunjukkan tekanan diastolis.

Di dalam praktek, ketiga cara ini harus dikombinasikan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan dapat dipercaya.

Protokol

1.      Tekanan Darah Istirahat

Mengukur tekanan darah orang coba setelah berbaring 5 menit, setelah duduk 5 menit dan setelah berdiri 5 menit. Orang coba harus benar-benar dalam keadaan santai. Membandingkan hasil ketiga pencatatan ini. Salam mencatat tekanan darah, digunakan kombinasi ketiga cara tadi.

2.      Pengaruh Perubahan Sikap

Orang coba berbaring 5 menit. Mengukur tekanan darah, kemudian orang coba diminta segera berdiri dan mengukur segera tekanan darah dengan lengan lurus ke bawah. Tekanan diukur 0, 1, 2, 3, 4 dan 5 manit sesudah berdiri.

3.      Pengaruh Kerja Otot

Orang coba diminta untuk melakukan kegiatan misanya berlari di tempat selama kurang lebih 3-5 menit kemudian mencatat tekanan darah control (sebelum kegiatan).

4.      Pengaruh Berpikir.

Mencatat tekanan darah control. Kemudian orang coba diminta berpikir denga kuat yaitu memecahakan soal matematika yang susah. Mencatat tekanan darahnya secepat mungkin, kalua perlu selagi berpikir. Membandingkan dengan tekanan darah Kontrol.

5.      Percobaan Valsava (Valsava Manuver)

Buatlah pencatatan kontrol. Orang coba diminta untuk melakukan ekspirasi kuat dengan glottis tertutup (mengedan). Catatlah tekanan darah pada saat ini dan bandingkan dengan tekanan control.

6.      Percobaan Muller

Orang coba diminta untuk inspirasi kuat dengan glottis tertutup. Ukurlah tekanan darah dan bandingkan dengan tekanan control.

D.    Hasil Percobaan

Cara penentuan tekanan darah arteri tidak langsung:

1.      Secara Palpasi

Nama                   : Tn. H

Umur                   : 19 Tahun

Pemeriksa            : Tn.A

Hasil                    : 120 mmHg

2.      Secara Auskultasi

Nama                   : Tn. H

Umur                   : 19 Tahun

Pemeriksa            : Tn.A

 Hasil                   : 100/60 mmHg

3.      Secara osilasi

Nama                   : Tn. H

Umur                   : 19 Tahun

Pemeriksa            : Tn.A

Hasil                    : 110/60 mmHg

Protokol

1.      Tekanan Darah Istirahat

Nama               : Tn. H

Umur               : 19 Tahun

Pemeriksa        : Tn.A

a.          Tekanan Darah setelah baring 5 menit adalah 110/80 mmHg

b.         Tekanan Darah setelah duduk 5 menit adalah 120/70 mmHg.

c.          Tekanan darah setelah berdiri 5 menit adalah 120/80 mmHg

2.      Pengaruh Perubahan Sikap

Nama               : Tn. H

Umur               : 19 Tahun

Pemeriksa             : Tn.A

a.          Tekanan Darah saat baring 5 menit adalah 180/80 mmHg

b.          Tekanan Darah saat berdiri :

   - Pada 0                       : 110/80 mmHg

   - Pada 1 menit             : 110/90 mmHg

   - Pada 3 menit             : 100/80 mmHg

   - Pada 5 menit             : 100/80 mmHg

3.   Pengaruh Kerja Otot

Nama               : Tn. H

Umur               : 19 Tahun

Pemeriksa        : Tn.A

Tekanan Darah kontrol adalah 110/60 mmHg

Tekanan Darah setelah berlari ditempat selama 3-5 menit adalah 130/80 mmHg

4.      Pengaruh Berpikir

Nama               : Tn. H

Umur               : 19 Tahun

Pemeriksa        : Tn. J

Tekanan Darah kontrol adalah 110/70 mmHg

Tekanan Darah setelah berpikir adalah 120/90 mmHg

5.      Percobaan Valsava

Nama               : Tn. H

Umur               : 19 Tahun

Pemeriksa        : Tn. S

Tekanan Darah kontrol adalah 110/80 mmHg

Tekanan Darah setelah ekspirasi adalah 120/90 mmHg

6.      Percobaan Muller

Nama               : Tn. H

Umur               : 19 Tahun

Pemeriksa        : Tn. S

Tekanan Darah kontrol adalah 110/80 mmHg

Tekanan Darah setelah Inspirasi adalah 110/60 mmHg

E.     Analisis hasil percobaan.

Adapun analisis dari hasil percobaan di atas adalah sebagai berikut:

a.       Cara palpasi Pemeriksaan dengan cara palpasi

Pemeriksaan dengan cara palpasi pada daerah arteri radialis yaitu disekitar daerah pergelengan tangan, ini  dilakukan untuk memgetahui tekanan darah sistol dari seseorang dimana tekanan darah sistol yang diperoleh pada pemeriksaan dengan cara palpasi ini adalah 120 mmHg.

b.      Pemeriksaan dengan cara auskultasi   

Pemeriksaan dengan metode ini dilakukan untuk mendapatkan tekanan darah sistoli maupun diastolik. Adapun tekanan darah sistol timbul pada fase pertama bunyi krotokrof yang terdengar keras. Sedangkan tekanan darah diastol diketahui dengan bunyi krotokrof pada fase IV semakin jelas pada fase V. dimana bunyi yang terdengar pada stetoskop perlahan menghilang. Tekanan darah systole dan diastole yang diperoleh dari percobaan ini adalah 100/60 mmHg.





c.       Pemeriksaan dengan cara osilasi

Pemeriksaan dengan metode osilasi dilakukan dengam menggunakan manometer air raksa untuk mengetahui tekanan darah sistol dan diastolnya. Adapun tekanan sistol dan diastolnya adalah 110/60 mmHg. Pengukuran dengan metode ini dilakukan dengan mendengarkan bunyi pada stetoskop yang nilainya kemudian disesuaikan dengan meter airaksa yang dapat dilihat ketika meter air raksa statis pada tekanan yang di tunjjukkan. Sedangkan, perbedaan hasil yang diperoleh dari ketiga percobaan ini dikarenakan pada ketiga percobaan diatas dilakukan pada 3 orang coba yang berbeda. Dimana pada dasarnya percobaan ini harusnya didapatkan hasil yang sama pada orang coba.

Protocol:

a.       Tekanan darah istirahat

Istirahat merupakan kondisi dimana tubuh dalam keadaan rileks dan sedikit membutuhkan energy, saat istirahat kerja jantung pun dalam keadaan normal yakni 5 L/menit (70 ml x 72 denyut/menit). Terdapat korelasi antara curah jantung istirahat dan luas permukaan tubuh. Curah per menit permeter persegi permukaan tubuh rata-rata= 3,2 liter. Pada keadaan tidur curah jantung tidak berubah tetapi meningkat saat cemas atau gembira (50-100%), setelah makan (30%), kerja fisik (700%) dan menurun saat duduk dan berdiri. Adapun hasil yang kami dapatkan bahwa tekanan darah istirahat orang coba yang diperoleh adalah setelah baring 5 menit adalah 110/80 mmHg, saat seseorang dalam keadaan berbaring posisi jantung dan organ-organ lain dalm keadaan sejajar sehingga sirkulasi darah menjadi lancer dan tidak memerlukan tekanan yang kuat. Setelah itu duduk 5 menit adalah 120/70 mmHg, saat tubuh dalam keadaan duduk maka posisi jantung tidak lagi sejajar dengan organ lainnya seperti pada bagian otak yang memerlukan suplai darah, agar darah sampai ke otak maka dibutuhkan tekanan yang lebih besar sehingga kerja jantung meningkat untuk menyesuaikannya. Setelah berdiri 5 menit adalah 120/80 mmHg, saat berada dalam posisi berdiri posisi jantung tidak sejajar lagi dengan organ-organ tubuh dan saat tubuh dalam posisi berdiri tubuh memrlukan banyak energy untuk menahan beban tubuh sehingga denyut jantung meningkat. Perbedaan hasil dari tekanan darah ini disebabkan oleh perubahan sikap yang secepatnya disesuaikan oleh jantung karena adanya pengaruh kerja otot pada manusia yang membutuhkan suplai O2 yang berbeda. Oleh karena itu Jantung juga secepatnya menyesuaikan dengan memompa darah lebih cepat. Agar oksigen dapat menuju ke jaringan yang membutuhkan oksigen sehingga dapat membentuk ATP sebagai energy untuk berkontraksi

b.      Pengaruh perubahan sikap

Adapun pengaruh perubahan sikap dapat mempengaruhi kerja jantung yang menyebabkan tekanan darah menjadi meningkat. Karena secepatnya jantung akan menyesuaikan diri dengan kerja yang dilakukan otot. Hal ini dapat terlihat dari hasil percobaan yang diperoleh yakni pada saat berbaring tekanan darah masih normal yakni 110/80 mmHg. Hal sama masih terlihat pada 0 menit orang coba berdiri, tekanan darah yang diperoleh masih sama pada saat berbaring serta tekanan darah normalnya. Perubahan tekanan darah baru terlihat setelah berdiri setelah 1 menit yakni 110/90 mmHg. Perubahan ini terjadi karena otot berkontraksi sehingga terjadi perubahan tekanan darah diastolnya. Namun, setelah berdiri 3-5 menit. Tekanan darah perlahan normal yakni 100/80 mmHg. Hal ini terjadi karena jantung kembali pada keadaan normalnya

c.       Pengaruh kerja otot.

Teori yang ada bahwa aktifitas fisik dapat mempengaruhi tekanan darah menjadi meningkat. Otot memerlukan oksigen untuk proses pembakaran dalam tubuh agar dapat digunakan sebagai energy dan yang berperan sebagai pengantar oksigen yaitu darah, dengan jantung sebagai pemompa. Selain itu perangsangan impuls simpatis menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah pada tubuh kecuali pada otot yang aktif terjadi vasodilatasi. Hal ini yang menyebabkan tekanan darah meningkat setelah beraktifitas. Selain itu, sewaktu otot-otot tersebut menekan pembuluh darah di seluruh tubuh, akibatnya terjadi pemindahan dari pembuluh perifer ke jantung dan paru-paru dengan demikian akan meningkatkan curah jantung yang selanjutnya meningkatkan tekanan darah. Data yang diperoleh dimana tekanan darah normal berbeda dengan tekanan darah setelah melakukan aktifitas fisik ( berlari-lari 3-5 menit). Hal ini terlihat dari adanya perubahan tekanan darah normalnya yang semula 110/60 mmHg berubah menjadi 130/80 mmHg. Jadi, hasil yang kami dapatkan sama dengan teori yang ada bahwa aktifitas fisik akan berpengaruh dengan tekanan darah.

d.      Pengaruh berfikir

Sama halnya dengan perubahan yang terjadi pada 3 pecobaan semua memberikan perubahan tekanan darah pada manusia. Seperti halnya dengan pengaruh berfikir, karena dengan berfikir, tekanan darah dapat meningkat. Ini terjadi karena otak memerlukan suplai energy yang lebih pada saat berfikir yang dihantarkan oleh darah sebagai regulator. Sehingga jantung memompa darah dengan cepat agar sirkulasi energy dari darah dapat berjalan lancar. Hal ini terbukti dari percobaan yang dilakukan, setelah berfikir tekanan darah jadi meningkat menjadi 120/90 mmHg, dari tekanan darah  normalnya yakni 110/70 mmHg. Namun, apabila oksigen tidak tercukupi untuk menyuplai ke otak maka otak akan mengalami sedikit gangguan sehingga biasanya orang mengalami gejala sakit kepala.

e.       Percobaan valsava

Pada metode ini yang dilakukan tekanan darah akan menurun, hal ini terjadi karena otot menjadi regang pada saat glottis tertutup. Saat melakukan inspirasi maka paru akan menekan pergerakan jantung sehingga proses pompa jantung terhambat oleh dorongan paru. Oleh karena itu tekanan darah menjadi meningkat dari yang sebelumnya 110/80 mmHg menjadi 120/90 mmHg.

f.       Metode Muller.

Metode muller dapat menyebabkan tekanan darah menjadi meningkat karena adanya peregangan otot karena penutupan glottis.oleh karena itu, tekanan darah menjadi meningkat dari yang sebelumya 110/60 mmHg menjadi 120/80 mmHg. pada percobaan Muller terjadi peningkatan tekanan darah, ini berarti pada saat seseorang respirasi tekanannya tekanan darahnya lebih meningkat dibandingkan pada saat ekspirasi. Hal ini terjadi karena pada saat seseorang respirasi maka oksigen yang masuk dalam tubuh dan diedarkan oleh darah, dan semakin banyak peredaran darah maka jantung semakin berkontraksi yang menyebabkan tekanan darah meningkat agar jaringan yang membutuhkan O2 segera mendapatkan suplai oksigen yang dibutuhkan.

















































BAB IV

PENUTUP

A.    Kesimpulan

      Setelah melakukan percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa:

1.      Tekanan darah adalah daya dorong ke semua arah pada seluruh permukaan  yang tertutup pada dinding bagian dalam jantung dan pembuluh darah.

2.      Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan dengan cara:

a.       Auskultasi

b.      Palpasi

c.       Osilasi

3.      Faktor yang mempengaruhi tekanan darah adalah:

a.       Curah jantung

b.      Tekanan darah perifer

c.       Faktor jenis kelamin

d.      Faktor umur

e.       Faktor genetik

f.       Faktor lingkungan

g.      Faktor berat badan

h.      Faktor kesehatan

4.      Fungsi yang diperoleh dari pengukuran tekanan darah adalah fungsi jantung dan  fungsi ginjal.

B. Saran

a.       Pada percobaan ini semuanya telah berjalan dengan lancar dan baik jadi saya ucapkan banyak terima kasih kepada pembimbing terutama asisten.

b.      Saya harap waktu yang diberikan untuk menyelesaikan laporan ini diperpanjang agar hasil laporan ini lebih berkualitas

c.       Semoga hari esok akan lebih baik dari sebelumnya.



DAFTAR PUSTAKA

1.      Lindsey.2008.tekanan darah . in http:/lindsylaff.nlogspot.com/2008/09 /tekanan drah.jhtml. last updated minngu. 5 juli 2010.



2.      Ganon, William. 2002. Ed. 8. Vol.2 buku ajar fisiologi kedokteran.jakarta: EGC



3.      Syaifuddin. 2006. Ed.3. anatomi fisiologi untuk mahasiswa keperawatan.jakarta:EGC

.

4.      Guyton Arthur. 2007. Ed.11.buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta :EGC

5.      Smelzet, Susanne.2001. ed.8 . vol.2. buku ajar keperawatan medical bedah. Brunner & suddert.jakarta: EGC.



6.      Michael, Newman.2009.Classification. in http//en.wikipedia.org/wikiblood-pleasure.com last Updated 4 juli 2010.



7.      Guyton Arthur.2007.ed.11.text book of medical physiology. Jakarta:EGC

8.      Taylor, Shelley E.2003.ed.5.health psychology. New York: MGH

9.      Krisdawati Sanni.2009.Upaya Mengatasi Tekanan Darah Tinggi.http://www.

              Analisadaily.com/indeks.2009-07-12.




11.  Berne, Robert M, dkk.2003.physiology. Edisi 5. USA. Mosby.